Jan 13, 2016

Mini Zine: Kehujanan




Aku pernah bangun di suatu pagi dengan perasaan ingin menjadi dandelion, namun hari ini, aku bangun dengan perasaan yang bahagia, tidak ada apa-apa, belum berinteraksi dengan orang lain, bahkan dengan seluruh benda mati di kamar. Kupikir, itu berkat pusaran kupu-kupu sisa semalam, yang berusaha terbang keluar dari perut hingga aku bertanya kepada langit-langit kamar, jika mampu sebahagia ini, mengapa aku pernah sedih? “Kita pencipta hidup kita sendiri.” kata Russel.


Matahari, ia sedang bergantung angkuh tepat di atas ubun-ubun para manusia pekerja. Mungkin baginya mereka adalah daging-daging tanpa harapan yang terus bergerak dan dari atas sana, dunia ini bahkan terlihat seperti miniatur yang diciptakan hanya untuk dipermainkan. Aku melayangkan pandangan dari pemandangan di balik kaca menuju ruangan ini. Duduk bersama dengan gemuruh tawa manusia-manusia dan pembicaraan yang terdengar seperti dengungan sekumpulan lebah. Dengungan berpadu dengan desis hidangan yang baru matang di antara denting garpu dan sendok yang beradu dengan piring.

Di balik bayangan orang-orang yang berlalu lalang menuju meja makan bernomor satu hingga tiga puluh aku menatap meja makan berwarna hitam nomor delapan belas milikku, aku mendengar percakapan lucu sebuah botol lada dan botol garam. Botol garam sedang mengoceh sendiri, tentang dirinya yang hanya memiliki satu lubang di kepalanya. Ia sangat ingin seperti botol lada; memiliki banyak lubang di kepalanya. Lalu ia mulai mengutuki dirinya sendiri atas apa yang ia pikir adalah ketidaksempurnaannya. Aku tertawa dalam hati, botol garam itu mirip sekali denganku. Aku memesan segelas es teh tanpa gula lagi dan kemudian perhatianku teralih kepada seorang pria pembawa berita ramalan cuaca di televisi yang volume suaranya tidak terdengar karena sengaja dimatikan. Dalam setelan jasnya yang kaku dan membosankan, pria pembawa berita ramalan cuaca itu mengatakan bahwa sore ini akan turun hujan. Kupikir aku hanya akan butuh selimut, bantal-bantal empuk tanpa tungau, dan segelas susu hangat dan duduk di depan jendela, bersiap-siap untuk menuntaskan buku setebal sembilan ratus dua puluh halaman yang belum selesai kubaca semalam.


Bau buku. Bau hujan. 

Aku bergegas pulang.

Tapi hujan tidak pernah seramah itu. Langit bergemuruh, petirnya memekakan telinga, kilat menyambar-nyambar bagai ingin menarikku ke dalam pusaran kesedihan.
Tidak ada cinta dalam setiap tetesan airnya.

Oh! Mungkin ada. 

Untuk rerumputan di taman.

Dan aku sadar, aku bukan tumbuh-tumbuhan.

4 comments:

  1. tulisannya bagus, btw gambar nya skrg berciri khas bgt, keren :))

    ReplyDelete
  2. AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA

    LONG TIME NO HEREEE DAN LANGSUNG TERGUGAH :')

    Keren banget kak!
    Aku juga lagi ngerjain project yang mirip ini nih, tapi lebih kayak majalah gitu konsepnya, nanti konten nya postingan2 aku sebelumnya yang dipilih dgn tema tertentu, kayak review film, review buku, cerbung, cerpen, puisi, fiksimini, style, photoset, dan lain-lain trus namanya HOWLER Magz (coming soon! hihi)

    P.S.
    You've made so many amazing artwork!
    Why dont you send some to rookiemag.com ??

    Kayaknya pasti bakal dimuat kak.
    Jenis karya nya yang disukai Tavi tulle dkk banget <3
    Tapi ternyata kalau digambar sendiri begini lebih keren dan berkesan banget gitu ya kak drpd di design2 pake photoshop + Phososcape? #barusadar

    ReplyDelete
    Replies
    1. HALO AUUUULLLL WHAHAHAHAHA PAKABARNEEEE.

      Howlermagz nanti online atau dicetaaakk? mau bacaaa!!!!


      udah pernah ngirim sih kayaknya tenggelam bersama ribuan artwork lain yg lebih bagus... aku sedang bikin buku seperti itu nihhhh semoga cepat terlaksana T_T

      Delete

You said......